Welcome

It's my writing about research meanlife in my world

Minggu, 08 Mei 2011

That’s what life for

Hembusan nafas, degupan jantung di dada selalu menjadi pertanda kehidupan kita di dunia ini. Banyak manusia yang berpendapat bahwa hidup di dunia ini hanyalah fantasi fana belaka, dan hanya panggung sandiwara kata seorang penyanyi dalam lagunya. Akan tetapi hakikat akan kehidupannya tidak pernah dia salami secara mendalam. Mereka hanya memandangnya dari perspektif ini, itu, dan ia tanpa mau menelaah mendalam dengan otak yang ia miliki.
Aku juga hanyalah individu yang awalnya tidak pernah berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Kebangunan dari tidur panjang dalam hidup hingga akhirnya memandang dunia juga butuh waktu yang amat panjang buat saya dan proses itu masih saya cari sampai sekarang. Kesangkalan atas yang terjadi pun kadang terjadi. Keinginan akan utopia yang membuai pun sangat diharapkan. Akan tetapi, mau sampai kapan saya menjadi pribadi yang demikian ? yang tidak akan tahu untuk apa aku ada ?
Sungguh pertanyaan yang klise karena pastinya di era modern dan maju ini, para ahli pastinya telah menemukan jawaban akan hal itu dan mengkajinya sejak dulu sebelum lahir ilmu pengetahuan. Bahkan dalam kitab suci Al-Qur’an telah tertera dengan jelas alasan penciptaan kita. Dan memang semestinya seperti itu. Bahkan para ahli pun mengiyakan hal tersebut.
Sebagai makhluk yang diciptakan di bumi ini, kita pastinya diharapkan menjadi penguasa bumi ini atau khalifah yang seharusnya memimpin dunia ini. Akan tetapi, dengan kekuasaan yang kita punya dan kesanggupan kita memenuhi keinginan Sang Pencipta kita, bukan berarti membuat kita menjadi pribadi yang egois tanpa memedulikan kesengsaraan yang di alami makhluk Allah yang lain. Justru dengan menjadi pemimpin, kita semestinya bisa membawa ke keadaan yang lebih baik dengan adanya keselarasan. Hidup kita pun nantinya juga akan menjadi begitu berarti karena sosok kita yang begitu penting dan selalu diharapkan kehadirannya di muka bumi ini. inilah yang kadang tidak kita indahkan sama sekali karena keegoisan diri yang berlebihan. Andai kita mau untuk menepiskannya dalam sekejap hal itu akan menjadi hal yang amat berarti dalam hidup ini dan takkan disesali.
Kita memang ditakdirkan untuk memimpin dunia ini. Tapi lihatlah keadaan sekitar. Betapa banyaknya keberagaman yang tercipta di dunia ini, yang saling mendukung keeksisan satu sama lain, yang menjaga pola keseimbangan secara sistematis. Seharusnya kita jadi sadar bahwa dengan demikian, kita tak boleh egois karena ada makhluk lain yang mirip dengan kita secara jiwa dan kebutuhan akan hidup. Dan dari hal ini kita bisa memperbaiki diri kita yang memang memiliki sifat egois yang dalam. Andai kita bisa menyerapinya dengan jiwa… setidaknya dalam berbuat, kita akan memikirkan orang lain juga, karena bukan hanya kita yang hidup di dunia ini sobat..
Itulah hidup yang sebenarnya. Hidup yang minim egois, hidup yang memikirkan nasib orang lain, hidup yang turut menjaga dunia, dan hidup untuk menghidupi jiwa-jiwa yang kosong akan jiwa kemanusiaan, serta hidup untuk menjaga keeksisan kita sebagai penghuni dunia. Berat kah ? tentunya tidak kalau kita semua mau bersama-sama melaksanakannya. Mau menjaga pola yang sudah ada. Serta mau peduli akan sekitar.
Itulah hidup yang amat bermakna di usia kita yang minim ini. tak mau kah kita menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya ? hidup di dunia hanya sekali. Jangan sia-siakan. Hidup juga akan bahagia bila dasar jiwa kita juga bahagia. Kebahagiaan bukan kita capai dengan memiliki segalanya yang ada di dunia. Coba kalian renungkan, sebenarnya kebutuhan akan yang lain itulah yang membuat kita bahagia lahir dan batin. Hidup bersama makhluk lain dan sesama kita merupakan hal yang ingin kita capai kan pada akhirnya ?! jadi untuk apa kita menyombongkan diri di depan mereka hanya untuk dikenal mereka ? we just need to socialization guys…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar