Welcome

It's my writing about research meanlife in my world

Minggu, 24 April 2011

Critical Review of The Development of IR in Indonesia

Dalam paper yang dibuat oleh Bob S. Hadiwinata dengan judul “The Development of IR in Indonesia”, dibahas sejarah perkembangan disiplin ilmu HI di Negara Indonesia yang dalam perkembangannya mengalami paradox dengan adanya andil dunia politik, juga adanya komersialisasi pada perguruan tinggi yang memiliki andil tersendiri pada pembentukan individu cetakan jurusan HI. Sehingga dapat dikatakan menjadi suatu hal yang amat disayangkan, mengingat hal-hal tersebut membuat sarjana cetakan jurusan ini di Indonesia kurang dalam pengefisiensian kompetensi dan kapabilitas mereka.
Fokus pertama, adalah sejarah perkembangan HI di Indonesia sebagai disiplin ilmu. Pengaruh kelahiran studi HI di Indonesia dibandingkan dengan kajian ilmu sosial yang lain relatif masih baru. Karena kajian ilmu sosial lainnya bahkan lahir jauh sebelum era dimana manusia dunia sadar bahwa kajian HI patut menjadi sebuah disiplin ilmu. Di Indonesia, lahirnya studi HI lebih berorientasi pada kebutuhan akan kehadirannya pada saat itu. Tepatnya pada pertengahan 1960an ketika beberapa universitas mengajukan program studi HI untuk memenuhi kebutuhan Departemen Luar Negeri untuk melatih para diplomat sebelum mengadakan hubungan diplomatik dengan negara lain yang berbeda.
Akan tetapi, menurut saya hal ini hanya sebagai bentuk formalitas belaka dengan alasan kebutuhan. Karena kesadaran akan pentingnya ilmu HI telah lahir sejak dirasakan perlunya kehadiran fokus kajian yang membahas pengelolaan hubungan antarnegara. Tetapi, menilik kembali sejarah bahwa bangsa kita butuh waktu lama hingga akhirnya lepas dari masa pembodohan akan dijajah dan juga minimnya manusia Indonesia yang berkompeten mengakibatkan kehadiran studi ini di negara kita terlambat. Dan baru disadari penting legalitasnya sebagai studi manakala negara kita sadar bahwa hubungan dengan negara lain harus ada koridor-koridor pola yang mengaturnya agar harmonis.
Dari kesadaran akan kebutuhan itu, dimensi baru pembelajaran HI di Indonesia secara lebih serius baru dimulai. Dalam perkembangannya, periode perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni soviet memberikan kontribusi yang amat besar bagi studi ini untuk kehadiran buku-buku teks yang jadi buku standar studi ini lahir dari sarjanawan-sarjanawan Amerika. Dimana, buku-buku teks inilah yang jadi sumber pembelajaran di negara kita sehingga pada akhirnya pengkaji studi HI di negara kita amat terpengaruhi paradigma realisme yang dibawa sarjanawan-sarjanawan Amerika tersebut. Dimana paradigma ini merupakan produk kaum behavioralis (realisme kontemporer) yang fokus pada struktur atau sistem Internasional.
Konsep-konsep realis seperti kekuatan nasional, kepentingan nasional, keseimbangan kekuatan (balance of power), deterrence, dan lainnya yang jadi topik inti pada inti program studi HI dan mata kuliahnya seperti, kebijakan luar negeri, politik internasional, teori HI, dan organisasi internasional.
Pengaruh Amerika bagi perspektif manusia Indonesia pun bukan hanya pada studi HI tapi juga pada kajian ilmu sosial lainnya dengan adanya program beasiswa ke negaranya. Sehingga layaknya mendarah daging, otak-otak manusia Indonesia telah dipenuhi perspektif mereka. Dan sampai sekarang pun hal ini tetap berlanjut. Tapi hal ini hanyalah cara-cara halus yang membuat keberpihakan kita pada negara mereka dan menjadi bentuk nyata menunjukkan kekuasaan mereka.
Fokus kedua, adalah pengaruh politik, kebijakan luar negeri, dan lingkup Asia Tenggara dalam pembelajaran HI. Dunia politik yang hakikatnya tak bisa terlepaskan dari studi HI juga memiliki andil bagi pengembangan studi HI. Hal ini dapat ditilik dari era Orde Baru dimana pemerintah negara kita yang anti komunis, sehingga paradigma komunisme pun jadi hal terlarang untuk dikaji termasuk dalam studi HI. Karena pemerintah akan langsung melakukan teror bahkan penahanan bagi orang-orang yang mengkajinya.
Paradigma realisme pun jadi teristimewakan dan senantiasa dianut dan dikaji oleh kalangan intelek kita. Bahkan kita juga turut memperlebar doktrinisasi paradigma ini ke negara lain melalui ASEAN. Kalangan intelek negara kita juga senantiasa menggunakan analisis realisme mengenai kebijakan politik luar negeri. Hal inilah yang membuat kebanyakan mahasiswa HI jauh lebih tertarik untuk mengkaji politik serta ideologi negara-negara kawasan Amerika Latin atau Timur Tengah dibanding mengkaji hal-hal di atas pada kawasan tempat tinggalnya sendiri.
Hal ini merupakan kemunduran tersendiri dan sangat memprihatinkan. Karena permasalahan yang terjadi di tempat tinggal dan kawasan sekitar negara mahasiswa tersebut malah tidak bisa menarik baginya. Pewarisan nilai-nilai ketimuran pun bisa dipastikan akan mudah tergerus dengan nilai-nilai anutan bangsa lain yang hakikatnya bukan menjadi ciri khas kepribadian bangsa kita. Sehingga menjadi hal yang wajar bila akhirnya pemimpin negara kita juga akan memiliki perspektif yang akan membuatnya menyelenggarakan pemerintahan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa kita.
Fokus ketiga, adalah komersialisasi dunia pendidikan khususnya pada perguruan tinggi. Dengan banyaknya peminat akan studi HI, sehingga banyak perguruan tinggi yang melahirkan kelas non reguler dengan biaya lebih tinggi. Ada juga kasus komersialisasi lainnya seperti sarjanawan-sarjanawan cetakan HI yang lebih memilih jadi dosen atau terjun ke kancah politik dibanding mengembangkan studi HI serta memberikan kontribusi padanya. Jarang yang mau menjadi peneliti dan pengkaji ilmu HI, sehingga kontribusi negara kita pada studi ini amat minim dibanding negara lainnya.
Selain itu, ada juga universitas swasta yang berorientasi pada keuntungan semata dan menerima sebanyak-banyaknya mahasiswa HI tanpa peduli pada tenaga dosen yang dimiliki sehingga tak jarang kelas-kelas mata kuliahnya akan terbagi-bagi dengan rata-rata 50-60an orang. Dengan keadaan seperti ini, dapat dipastikan bahwa kualitas mahasiswa cetakan HI amat minim. Dan kalau sudah begini, pengefisiensian mereka untuk kemajuan studi HI jadi tidak akan berjalan dengan baik.
Secara keseluruhan, artikel ini sangat bagus karena memberikan penjelasan yang jelas dan memberikan gambaran situasi yang terjadi bagi perkembangan studi kajian HI. Akan tetapi, penjelasannya sedikit berbelit-belit. Sejarah secara keseluruhan juga tidak jelas. Hanya dirumuskan asal mula studi HI di Indonesia tanpa memberikan rentetan peristiwa perkembangan yang jelas.
Akan tetapi, secara keseluruhan pendapat yang dikemukakan memang sangat sesuai dengan kenyataan. Dan sangat kaya akan informasi yang amat bermanfaat bagi kita untuk menelaah persoalan kualitas sarjana-sarjana HI.
Menurut saya sendiri, untuk persoalan minimnya kontribusi sarjana HI Indonesia untuk studi kajian, memang tak lepas dari kecintaannya pada studi ini sendiri. Karena kalau sarjana-sarjana kita berorientasi semata hanya demi mendapatkan pekerjaan, maka rata-rata yang jadi fokus keberpihakan mereka yaitu materi. Saya juga sangat menyayangkan kekurang perhatiannya mereka akan pembelajaran pada kawasan tempat tinggalnya sendiri. Karena kalau sampai hal ini berkelanjutan maka nilai-nilai buah cipta generasi pendahulu kita dengan mudah dapat tergantikan. Di sini, peran pemerintah sebenarnya memiliki andil yang amat besar karena hanya merekalah yang mampu mengontrol keadaan ini sehingga penting bagi mereka untuk paham nilai-nilai bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar